Bangkitlah Televisi Lokal !: Menggeliatnya perkembangan televisi lokal tidak seindah yang dibayangkan. Televisi lokal yang sudah beroperasi banyak yang berjibaku dengan masalah internalnya, dari persoalan buruknya manajemen, baik manajemen sumber daya manusianya maupun manajemen keuangannya, hingga pada persoalan sulitnya mendapatkan share iklan ( MZ Al-Faqih, Kompas Jawa Barat, 5 September 2006 ).

Televisi Lokal dan Budaya Lokal : kemunculan stasiun televisi lokal juga tak beda dengan televisi swasta nasional yang terkesan tanpa persiapan, selain sekadar hanya membaca peluang, terutama peluang bisnis. Berdasarkan pengamatan, keberadaannya tidak lebih hanya sekadar replika stasiun televisi nasional yang telah jauh lebih populer dan banyak diakses masyarakat. ( Gunawan Witjaksana, Kompas Jawa Tengah, 14 Oktober 2006 ).  Berita Kriminal dalam Televisi Lokal : Skandal, yang berarti perilaku yang tidak baik dan menimbulkan perasaan malu atau aib yang bisa merontokkan martabat seseorang, berubah menjadi hiburan sensasional di tangan jurnalis televisi lokal yang menerapkan tabloidisasi ( Triyono Lukmantoro, Kompas Yogyakarta, 20 Desember 2006 ).

Gaya Hidup dalam Televisi Lokal : Setidaknya dua televisi lokal di wilayah Jakarta, O Channel serta Jak TV, niscaya menjadi tontonan alternatif warga Jakarta di samping beberapa stasiun nasional yang mapan. Satu stasiun lagi, Spacetoon, lebih menyasar pangsa pemirsa anak-anak dan menjadi tontonan alternatif keluarga ( Susi Iwaty, Kompas 21 Januari 2007 ).Menjual Rumah demi Sinetron : Meskipun pengelola stasiun televisi lokal belum bisa berkontribusi banyak pada pengembangan film berformat Jatim, setidaknya sampai sekarang stasiun televisi lokal belum membeli film berciri Jatim. Beberapa stasiun malah meminta bayaran untuk menayangkan film dan sinetron lokal ( Kris Razianto Mada, Kompas Jawa Timur, 30 Maret 2007 ). 

Siaran Lokal Rangsang Pertumbuhan Budaya : Sebanyak 90 persen dari 14 kanal televisi UHF yang dimiliki DI Yogyakarta masih dikuasai oleh televisi Jakarta. Komisi Penyiaran Indonesia Daerah DIY telah melayangkan surat ke televisi Jakarta agar mulai membuka jaringan sendiri. “KPID harus terus memperjuangkan hak kanal ini untuk perkembangan televisi lokal. Televisi Jakarta harus membuka jaringan sendiri atau hengkang dari DIY,” ( Kompas Yogyakarta, 26 April 2007 ).

Penguatan Desentralisasi Penyiaran Televisi: Bagi dunia pertelevisian Indonesia, 2007 merupakan tahun penuh harapan bagi terciptanya sistem penyiaran (TV) yang demokratis. Sejak munculnya penyiaran TV yang pertama di Indonesia tahun 1962 sampai sekarang penyelenggaraan penyiaran kita masih sentralistik, dimonopoli oleh “Jakarta” (Antonius Darmanto, Kedaulatan Rakyat 16 Juni 2007).